Senin, 21 Desember 2015

Tulisan ke-9 Pengemis, Pengamen, dan Pengangguran Terhadap Perekonian

PENGARUH KEMISKINAN TERHADAP PEREKONOMIAN

Kemiskan merupakan permasalahan turun menurun dari masa ke masa kepemimpinan pemimpin Indonesia.kemiskinan merupakan redahnya tingkat penghasilan yang didapatkan oleh seseorang sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya secara baik.di Indonesia mengukur tingkat kemiskinan sesuai dengan criteria yang telah di tentukan Badan Pusat Statistik (BPS). BPS menentukan kriteria kemiskinan menggunakan pendekatan kebutuhan dasar (basic needs). Berdasarkan pendekatan kebutuhan dasar, ada 3 indikator kemiskinan yang digunakan, yaitu (1) Headcount Index, (2) indeks kedalaman kemiskinan (Poverty Gap Index). (3) indeks keparahan kemiskinan (Poverty SeverityIndex). berdasarkan data BPS Jumlah penduduk  miskin di Indonesia pada Maret 2010 sebesar 31,02 juta orang (13,33 %). 
 Sen (1995) menyatakan bahwa “kemiskinan jangan dianggap hanya sebagai pendapatan rendah (low income), tetapi harus dianggap sebagai ketidakmampuan kapabilitas (capability handicap)”. Menurut Chambers dalam Nanga (2006),“kemiskinan terutama di daerah pedesaan (rural poverty) adalah masalah ketidakberdayaan (powerlessness), keterisolasian (isolation), kerentanan (vulnarability) dan kelemahan fisik (physical weakness), dimana satu sama lain saling terkait dan mempengaruhi. Namun demikian, kemiskinan merupakan faktor penentu yang memiliki pengaruh paling kuat dari pada yang lainnya”.kemiskinan bukanlah permasalahan yang sepele karna kemiskinan tidak apat diukur dengan pendapatan saja karna pendapatan itu sewaktu waktu akan berubah,seharusnya pemerintah harus lebih memperhatikan permasalahan kemiskinan agar tingkat kemiskinan tidak selalu meningkat tiap tahunya.seharusnya pemerintah membuat suatu kebijakan untuk mengatasi kemiskinan banyak para ahli berpendapat bagaimana cara yang sangat tepat untuk mengatasi tingkat penganguran salah satunya yaitu menurut
Perry et al.,(2006) berpendapat: “pertumbuhan ekonomi penting untuk pengentasan kemiskinan. Manfaat dari pertumbuhan ekonomi yang cepat akan menyebar ke seluruh segmen dalam masyarakat”. Pandangan ini berdasarkan pada teori Trickle Down yang sangat dominan dalam teori-teori pembangunan pada era 1950 an dan 1960 an. TeoriTrickle Down Effect menyebutkan adanya aliran menetes ke bawah, dari kelompok kaya ke kelompok miskin melalui fungsi-fungsi dalam ekonomi. Octaviani (2001):“Penelitian tentang pengaruh pengangguran terhadap tingkat kemiskinan di Indonesia dengan pendekatan analisis Indeks Forrester Greer & Horbecke”, Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa kenaikan angka pengangguran mengakibatkan peningkatan atas angka kemiskinan, sebaliknya semakin kecil angka pengangguran akan menyebabkan semakin rendahnya tingkat kemiskinan di Indonesia”. Sementara Sasana (2009):“Penelitian ini menganalisa penyerapan tenaga kerja, penduduk miskin dan kesejahteraan masyarakat. Penelitian ini dilakukan di kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah tahun 2001-2005, tenaga kerja terserap berpengaruh signifikan dan mempunyai hubungan yang positif terhadap kesejahteraan masyarakat”.  Banyak sekali permasalahan permasalahan baru yang berakar dari permasalahan kemiskinan salah satunya itu permasalahan kriminalitas,gepeng atau pengemis,PSK,banyaknya anak putus sekolah,banyak anak anak dibawah umur yang sudah bekerja dengan cara mengemis dan hampir 90% alasan mereka mengemis karna factor ekonomi.untuk mengurangi tingkat kemiskinan pemerintah harus meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi,menciptakan lapangan pekerjaan,pemusatan kebijakan social ekonomi dan menciptakan kebijakan pengurang kemiskinan sesuai dengan keadaan yang terjadi.
Menurut Sumitro Djojohadikusumo (1995) pola kemiskinan ada empat yaitu, Pertama adalah persistent poverty, yaitu kemiskinan yang telah kronis atau turun temurun. Pola kedua adalah cyclical poverty, yaitu kemiskinan yang mengikuti pola siklus ekonomi secara keseluruhan. Pola ketiga adalah seasonal poverty, yaitu kemiskinan musiman seperti dijumpai pada kasus nelayan dan petani tanaman pangan. Pola keempat adalahaccidental poverty, yaitu kemiskinan karena terjadinya bencana alam atau dampak dari suatu kebijakan tertentu yang menyebabkan menurunnya tingkat kesejahteraan suatu masyarakat.

PENGARUH PENGANGGURAN TERHADAP PEREKONOMIAN

Pengangguran adalah seseorang yang tergolong menjadi anggkatan kerja tetapi belum memiliki pekerjaan ataupun sedang mencari pekerjaan.di Indonesia golongan angkatan kerja diukur dengan usia,seseorang yang tergolong angkatan kerja adalah seseorang yang berusia 15-65 tahun.dengan jumlah penduduk yang cukup banyak Indonesia memiliki angkatan kerja yang banyak pula tetapi jumlah angkatan kerja yang banyak itu tidak sebanding dengan jumlah kesempatan kerja yang ada.kesempatan kerja adalah suatu tempat atau perusahaan atau instansi yang mampu menampung banyak orang untuk bekerja. “Kesempatan kerja akan menampung semua tenaga kerja yang tersedia apabila lapangan pekerjaan yang tersedia mencukupi atau seimbang dengan banyaknya tenaga kerja yang tersedia”, (Tambunan, 2001:60) jika jumlah angkatan kerja seimbang dengan jumlah kesempatan kerja atau lapangan pekerjaan itu akan berdampak langsung kepada tingkat pengangguran dan berpengaruh terhadap permasalahan yang lainnya.karna tenaga kerja itu merupakan factor yang sangat penting dalam kegiatan produksi selain factor sumber daya alam dan sumber daya modal karna jika ada sumber daya alam dan sumber daya modal tetapi tidak ada tenaga kerja kegiatan produksi pun tidak akan berjalan,sesuai dengan pengertiannya tenaga kerja adalah manusia yang mampu bekerja yang dapat menghasilkan barang atau jasa yang memiliki nilai ekonomis untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.permasalahn tenaga kerja merupakan permasalahan yang dialami banyak Negara di dunia terutama di Negara berkembang seperti Indonesia.permasalahan tenaga kerja merupakan permasalahan yang mudah untuk diatasi karna permasalahn tenaga kerja dapat menimbulkan permasalahan-permasalahan yang lainnya.jika jumlah tenaga kerja tidak sesuai dengan jumlah lapangan perkerjaan itu akan menimbulkan tenaga kerja yang menganggur.jika jumlah pengangguran meningkat menyebabkan rendahnya pendapatan dan jika pendapatan rendah itu juga akan menghambat pembangunan nasional. pengagguran menurut (Sumarsono,2009:6), “adalah persentase jumlah penganggur terhadap jumlah angkatan kerja. Penduduk yang sedang mencari pekerjaan tetapi tidak sedang mempunyai pekerjaan disebut penganggur”tenaga kerja merupakan factor yang sangat penting jadi kesempatan kerja atau lapangan pekerjaan akan meningkat bila jumlah permintaan tinggi atau banyak.untuk mengetahui jumlah penangguran yang terjadi di Indonesia kita akan melihat data jumlah pengangguran yang terjadi di Kalimantan barat.

Dengan jumlah pengangguran yang banyak tidak selalu mengganggu jalannya pembangunan jika sumber daya manusianya memiliki kualitas dan mampu menciptakan dan menyerah hasil produk yang diproduksinya.bagi Negara maju pertumbuhan penduduk yang tinggi dapat dijadikan sumber pendapatan bagi Negara karna Negara maju sudah siap dengan tabungan yang akan melayani kebutuhan investasi tetapi berbanding terbalik dengan Negara yang sedang berkembang pertumbuhan penduduk yang tinggi malah menghambat pertumbuhan ekonomi salah satunya seperti di Indonesia.akibat yang akan dirasakan bagi Negara berkembang dengan jumlah penduduk yang banyak yaitu :

·         Pengangguran menyebabkan masyarakat tidak memaksimumkan tingkat kemakmuran
yang mungkin dicapainya. Pengangguran menyebabkan pendapatan nasional yang sebenarnya dicapai adalah lebih rendah dari pendapatan nasional potensial. Keadaan
ini berarti tingkat kemakmuran masyarakat yang dicapai adalah lebih rendah dari
tingkat yang mungkin dicapainya.
·         Pengangguran menyebabkan pendapatan pajak pemerintah berkurang.
Pengangguran diakibatkan oleh tingkat kegiatan ekonomi yang rendah dan dalam
kegiatan ekonomi yang rendah pendapatan pajak pemerintah semakin sedikit. Dengan
demikian pengangguran yang tinggi mengurangi kemampuan pemerintah menjalankan kegiatan pembangunan.
·         Pengangguran tidak menggalakkan pertumbuhan ekonomi
Pengangguran menimbulkan dua akibat buruk kepada kegiatan sektor swasta. Yang
pertama, pengangguran tenaga buruh diikuti pula oleh kelebihan kapasitas mesinmesin perusahaan. Keadaan ini tidak menggalakkan mereka melakukan investasi di masa datang. Kedua pengangguran yang diakibatkan kelesuan kegiatan perusahaan menyebabkan keuntungan berkurang. Keuntungan yang rendah mengurangi keinginan untuk melakukan investasi. Kedua hal tersebut di atas tidak menggalakkan pertumbuhan ekonomi di masa depan. 
Selain dampak diatas ada lagi dampak dari pertumbuhan yang tinggi bagi Negara yang sedang berkembang yaitu :

1.      Pengangguran menyebabkan kehilangan mata pencaharian dan pendapatan
Di negara maju, mereka yang menganggur mendapat tunjangan (bantuan keuangan)
dari badan asuransi pengangguran sehingga mereka tidak tergantung pada pihak lain.
Sedangkan di negara berkembang, karena tidak ada program tersebut, sehingga
kehidupan penganggur harus dibiayai oleh tabungan masa lalu atau pinjaman/bantuan
keluarga dan kawan-kawan. Keadaan ini bisa mengakibatkan pertengkaran dan
kehidupan keluarga yang tidak harmonis
2.      Pengangguran dapat menyebabkan kehilangan ketrampilan
Pengangguran dalam periode yang lama akan menyebabkan tingkat ketrampilan
pekerja menjadi semakin merosot atau bahkan menjadi hilang.
3.      Pengangguran dapat menimbulkan ketidakstabilan sosial dan politik

Pengangguran merupakan dampak dari lingkaran setan yang bermula dari rendahnya
pendapatan perkapita. Dengan pendapatan perkapita rendah menyebabkan tidak adanya
tabungan sebagai sarana pembentukan modal. Tidak adanya modal berakibat tidak adanya
investasi yang berdampak pada minimnya perluasan kesempatan kerja dan munculnya
pengangguran. Dan pengangguran akan berimbas pada rendahnya pendapatan perkapita
(Siagian, 1981:58).

Pengangguran merupakan permasalah yang ada di semua Negara,memang tidak mudah mengatasi permasalahan pengangguran secara langsung tetapi setidaknya ada beberapa strategi untuk mengurangi tingginya tingkat pengangguran yaitu :

Ø  Mendorong dan membuka kesempatan bagi pihak asing untuk menanamkan modalnya ke Indonesia.

Tidak mudah memang mendorong pihak pihak asing atau investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia,karna adanya keraguan dari investor karna Negara Indonesia sering terjadi konflik politik.

Ø  Meningkatkan kualitas tenaga kerja

Pengangguran terjadi karna para angkatan kerja kurang memiliki skill atau kemampuan untuk bersaing dengan para tenaga kerja lainnya.oleh karna itu seharusnya pemerintah membuat suatu pelatihan untuk para tenaga kerja supaya bisa memiliki keahlian tertentu.

Ø  Peningkatan kualitas program KB dan Transmigrasi

Progam KB atau keluarga berencana merupakan program yang dibuat pemerintah untuk mengurangi tingkat pertumbuhan penduduk tetapi sampai saat ini program KB tidak berjalan dengan baik mungkin harus ada pewasan dan peningkatan kualitas terhadap program ini.program transmigrasi juga program pemerintah untuk pemerataan penduduk .

Ø  Program program lain

Ada beberapa program lain yang dilakukan pemerintah untuk mengurangi tingkat pengangguran yang ada seperti mendirikan sebuah program padat karya dan memberdayakan kemampuan masyarakat desa.

PENGARUH PENGAMEN (ANAK JALANAN) TERHADAP PEREKONOMIAN

Menurut penelitian Kementerian Sosial terdapat sekitar 4,5 juta anak terlantar (seperti anak jalanan, kurang nutrisi, dan anak berkebutuhan khusus) yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia. Anak jalanan yang jumlahnya keseluruhan mencapai 232.000 anak. Sebanyak 80% diantaranya karena disuruh orang tua bekerja di jalanan, selain karena faktor kemiskinan. Menurut data yang didapat dari Dinas Sosial DKI Jakarta, tahun 2011 tercatat ada sekitar 7.315 anak jalanan di ibu kota Jakarta, dibanding tahun 2010 yang mencapai 5.650 orang atau tahun 2009 sebanyak 3.724 orang. Mereka bekerja sebagai pengelap kaca mobil, pedagang asongan, joki 3 in 1, parkir liar, penyemir sepatu, penjual koran, pencuci kendaraan, menjadi pemulung barang-barang bekas. Sebagian lagi pengemis, pengamen, dan bahkan ada yang menjadi pencuri, pencopet atau terlibat perdagangan sex.
Pemenuhan kebutuhan ekonomi, seringkali dijadikan alasan utama dari keberadaan anak di jalanan. Dengan menggunakan sebagian besar waktunya untuk beraktivitas di jalanan, anak seringkali dihadapkan pada situasi yang tidak menguntungkan dan sangat rentan terhadap berbagai persoalan psikologis dan sosial yang sangar mempengaruhi kualitas perkembangan fisik dan psikis mereka. Sebagian besar masyarakat menganggap anak jalanan sebagai gangguan. Mereka diperlakukan sebagai suatu kelompok yang berada di luar lingkungan masyarakat itu sendiri. Anak-anak jalanan akan selalu ada, ketika pembangunan itu sendiri tidak berhasil menghentikan penggusuran terhadap kelompok marjinal perkotaan. Kemiskinan diyakini sebagai faktor utama yang menimbulkan fenomena anak  jalanan. Keluarga yang miskin cenderung menyuruh anak mereka bekerja. Selain itu, tidak sedikit anak-anak yang menjadi anak jalanan karena keluarga tidak harmonis, ditelantarkan oleh keluarganya, atau karena mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Dan program-program anak jalanan lebih banyak dibuat bukan untuk kepentingan anak jalanan dan tidak menempatkan sebagai dirinya sendiri. Anak-anak tidak boleh hidup di jalanan karena jalanan bukan tempat yang pantas bagi mereka. Mereka seharusnya hidup bersama orangtua dan saudara di rumah yang hangat dan bersahabat, selayaknya bermain dan belajar di sekolah atau di tempat yang pantas untuk itu. Jalanan memiliki resiko yang sangat berbahaya bagi anak dan bukanlah lingkungan yang baik untuk proses tumbuh-kembang anak dan merealisasikan potensinya secara penuh.


A.     Dimensi Pengembangan Masyarakat
Salah satu cara memahami pengertian suatu konsep adalah melalui definisinya. Pembangunanpeningkatan, danpemberdayaan merupakan unsur-unsur dari dimensi pengembangan masyarakat yang mengarah kepada aktualisasi diri (disampaikan dalam kuliah pengembangan masyarakat program pasca sarjana UNS). Proses pembangunan secara nasional atau daerah, memfokuskan upaya-upaya pembangunan manusia yang dipengaruhi oleh faktor produkvitas dan kemampuan ekonomi (daya beli), derajat kesehatan, dan pendidikan. Itulah yang disebut dengan Human Development Index (HDI) atau Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Pembangunan menurut Riyadi (1981) dalam Mardikanto (2010) adalah suatu usaha atau proses perubahan, demi tercapainya tingkat kesejahteraan atau mutu hidup suatu masyarakat (dan individu-individu didalamnya) yang berkehendak dan melaksanakannya. Sedangkan Peningkatan merupakan suatu proses atau cara atau perbuatan meningkatkan usaha dan kegiatan (www.artikata.com/arti-381949-peningkatan-html).
Pemberdayaan berasal dari kata “empowerment”, secara harfiah diartikan sebagai “pemberikekuasaan” dalam arti pemberian atau peningkatan kekuasaan kepada masyarakat yang lemah atau tidak beruntung. Jim Ife (2008) mendefinisikan pemberdayaan sebagai “Empowerment aims to increase the power of dis-advantaged”. Craig dan Mayo (1995) dalam Al Fitri (2011) mengatakan bahwa konsep pemberdayaan termasuk dalam pengembangan masyarakat dan terkait dengan konsep : kemandirian (self help), partisipasi (participation), jaringan kerja (networking) dan pemerataan (equity). Pemberdayaan masyarakat menurut Mas’oed (1990) dalam Mardikanto (2010) diartikan sebagai upaya untuk memberikan daya (empowerment) atau penguatan (strengthening) kepada masyarakat. Mardikanto (2010) berpendapat, empowerment/pemberdayaan adalah sebagai upaya untuk memberikan kesempatan dan kemampuan kepada masyarakat untuk mampu dan berani bersuara serta mampu dan berani memilih alternatif perbaikan kehidupan yang lebih baik. Tujuan pemberdayaan masyarakat meliputi beragam upaya perbaikan yaitu perbaikan pendidikan (better education), perbaikan aksesibilitas (better accesibility), perbaikan tindakan (better action), perbaikan kelembagaan (better institution), perbaikan usaha (better business), perbaikan pendapatan (better income), perbaikan lingkungan (better environment), perbaikan kehidupan (better living) dan perbaikan kehidupan masyarakat (better community) (Mardikanto, 2010). Lingkup kegiatan pemberdayaan masyarakat sebagaimana dirumuskan oleh Sumadyo dalam Mardikanto (2010) yaitu bina manusia, bina usaha dan bina lingkungan. Oleh Mardikanto menambahkan pentingnya bina kelembagaan.
Menurut Hayden (1979) dalam Soetomo (2010), pengembangan masyrakat (community development) adalah suatu proses usaha masyarakat sendiri yang diintegrasikan dengan otoritas pemerintah guna memperbaiki kondisi sosial ekonomi dan kultural komunitas, mengintegrasikan komunitas ke dalam kehidupan nasional dan mendorong kontribusi komunitas yang lebih optimal bagi kemajuan nasional. Christenson dan Robinson (1989) dalam Soetomo (2010) mendefinisikan pengembangan masyarakat (community development) sebagai suatu proses dimana masyarakat yang tinggal pada lokasi tertentu mengembangkan prakarsa untuk melaksanakan suatu tindakan sosial dengan atau tanpa intervansi untuk mengubah situasi ekonomi, sosial, budaya, dan  lingkungan mereka. Dalam community development intervansi bukanlah merupakan hal yang mutlak, justru yang lebih penting adalah prakarsa dan partisipasi masyarakat dalam proses yang berlangsung. Community development memiliki fokus terhadap upaya menolong masyarakat yang memiliki kesamaan minat untuk bekerjasama, mengidentifikasi kebutuhan bersama dan kemudian melakukan kegiatan bersama untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Community development sering diimplementasikan dalam bentuk: (i) proyek-proyek pembangunan yang memungkinkan anggota masyarakat memperoleh dukungan dalam memenuhi kebutuhannya dan; (ii) kampanye dan aksi sosial yang memungkinkan kebutuhan-kebutuhan tersebut dapat dipenuhi oleh pihak-pihak lain yang bertanggungjawab.
Secara khusus community development berkenaan dengan upaya pemenuhan kebutuhan orang-orang yang tidak beruntung/tertindas, baik yang disebabkan oleh kemiskinan maupun oleh diskriminasi berdasarkan kelas sosial, suku, jender, jenis kelamin, usia, dan kecacatan. Secara umum community development dapat didefinisikan sebagai kegiatan pengembangan masyarakat yang diarahkan untuk memperbesar akses masyarakat untuk mencapai kondisi sosial-ekonomi-budaya yang lebih baik apabila dibandingkan dengan sebelum adanya kegiatan pembangunan. Sehingga masyarakat di tempat tersebut diharapkan menjadi lebih mandiri dengan kualitas kehidupan dan kesejahteraan yang lebih baik. Walaupun terkesan adanya variasi dalam definisi yang ada dengan masing-masing memberikan penekanan pada aspek yang berbeda, tetapi dapat ditarik beberapa prinsip umum yang selalu muncul. Prinsip-prinsip tersebut adalah : (1) Wholistic/Holistic, berdasarkan pada pola-pola budaya masyarakat, fakta dan kebutuhan yang dirasakan masyarakat; (2) Self help; (3) Democraticmaximum freedom and self determination; (4) People center; dan (5)Voluntary. Tiga karakter utama yang terdapat dalam program community development adalah : (1) berbasis masyarakat (community based); (2) berbasis sumber daya setempat (local resource based) dan; (3) berkelanjutan (sustainable). Pengembangan merupakan usaha bersama dan terencana untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia, meliputi beberapa sektor, yaitu ekonomi, pendidikan, kesehatan dan sosial-budaya.
Aktualiasi merupakan kebutuhan dan keinginan untuk bertindak sesuka hati sesuai dengan bakat dan minatnya (Maslow, 1970 dalam Schultz, 1997). Dipengaruhi oleh faktor internal yaitu bentuk hambatan berasal dari dalam meliputi ketidaktahuan potensi diri, perasaan ragu dan takut mengungkap potensi diri; dan faktor eksternal yaitu hambatan yang berasal dari luar meliputi budaya masyarakat yang tidak mengupayakan aktualisasi potensi diri sesorang karena perbedaan karakter, faktor lingkungan dan pola asuh keluarga. Kebutuhan paling tinggi dalam hirarki kebutuhan individu Abraham Maslow adalah aktualisasi diri. Aktualisasi diri adalah tahap pencapaian oleh seseorang manusia terhadap apa yang mulai disadarinya ada dalam dirinya. Kebutuhan tersebut adalah:
1.      Kebutuhan fisiologis (physiological needs) meliputi pangan, pakaian, tempat tinggal, dan biologis.
2.      Kebutuhan keamanan dan keselamatan (safety needs), meliputi kebutuhan akan keamanan kerja, kemerdekaan dari rasa takut dan tekanan, keamanan dari kejadian/lingkungan yang mengancam.
3.      Kebutuhan rasa memiliki, sosial dan kasih sayang (social needs), meliputi rasa persahabatan, berkeluarga, berkelompok, interaksi dan kasih sayang.
4.      Kebutuhan akan penghargaan (esteem needs), meliputi harga diri, status, prestise, respek, dan penghargaan.
5.      Kebutuhan aktualisasi diri (self actualization needs), meliputi kebutuhan akan memenuhi keberadaan diri (self fulfillment) untuk mempergunakan potensi diri, kreativitas, realisasi diri dan pengembangan diri.
B.     Model-Model Community Development Yang Digunakan Dalam Penanganan Anak Jalanan
Model-model pengembangan masyarakat (community development) perlu dibangun berdasarkan perspektif alternatif (baik profesional maupun radikal) yang secara kritis mampu memberikan landasan teoritis dan pragmatis bagi praktek pekerjaan sosial. Apapun perspektif dan model yang digunakan, pekerja sosial perlu meningkatkan perangkat pengetahuan, teknik dan keterampilan profesionalnya yang saling melengkapi. Twelvetrees (1991) membagi perspektifcommunity development  dalam dua bingkai, yaitu pendekatan professional dan pendekatan radikal. Dalam mengembangkan program community development tidak dapat dilepaskan dari proses yang harus dilalui dan direncanakan secara sistematis. Perubahan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain perencanaan program dan kondisi masyarakat yang akan diubah. Tahapan pengembangan masyarakat menurut Adi (2001) adalah :
1)      Tahap Persiapan, meliputi penyiapan tugas dan penyiapan lapangan.
2)      Asessment, mengidentifikasi masalah dan sumberdaya yang dimiliki.
3)      Perencanaan alternatif, secara partisipatif melibatkan masyarakat berpikir tentang masalah yang dihadapi dan cara mengatasinya.
4)      Pemformulasian rencana aksi, agen perubahan (community worker) membantu masyarakat memformulasi gagasan dalam bentuk tertulis, terkait dengan pembuatan proposal kepada pihak penyandang dana.
5)      Pelaksanaan program atau kegiatan, tahap yang paling krusial (penting) dalam proses pengembangan masyarakat, sesuatu yang sudah direncanakan dengan baik akan dapat melenceng dalam pelaksanaan di lapangan bila tidak ada kerjasama.
6)      Evaluasi, suatu proses pengawasan dari masyarakat dan petugas terhadap program yang sedang berjalan pada pengembangan masyarakat sebaiknya dilakukan dengan melibatkan masyarakat.
7)      Terminasi, tahap ‘pemutusan’ hubungan secara formal dengan komunitas sasaran yang merupakan siklus untuk mencapai perubahan yang lebih baik terutama setelah dilakukan monitoring pelaksanaan kegiatan. Meskipun demikian siklus dapat berbalik di beberapa tahapan yang lain.
Ada 3 (tiga) model penanganan anak jalanan antara lain :
1)      Penanganan berbasis jalanan (street based).
2)      Penanganan anak jalanan terpusat (center based).
3)      Penanganan anak jalanan berbasis komunitas (community based).
Dalam praktek, pada umumnya lebih banyak menerapkan model street based dan center based, padahal model community based tidak kalah pentingnya dibandingkan pendekatan yang lainnya karena masing-masing pendekatan mempunyai kelemahan dan kelebihan. Penanganan anak jalanan sampai saat ini cenderung lebih dititikberatkan pada upaya pemberdayaan langsung kepada anak. Keberadaan keluarga atau orang tua anak jalanan yang cenderung sebagai penyebab anak turun ke jalanan belum tersentuh pelayanan secara optimal. Padahal dilihat dari perkembangannya, penyebab banyaknya anak jalanan dikota-kota besar bersumber dari keluarga yang mengalami kemiskinan maupun keretakan hubungan orang tua. Dalam kondisi ini, pencegahan yang paling tepat agar anak tidak menjadi anak jalanan adalah penguatan fungsi keluarga. Sehingga Model berbasis masyarakat  (community based) perlu untuk dikembangkan selain kedua model yang lain. Berikut adalah tipologi anak jalanan yang dihubungkan dengan model dan fungsi intervensi :
Kategori Anak
ModelIntervensi
Fungsi Intervensi
Anak yang mempunyai resiko tinggi (Children at high risk)
Community based
Preventif
Anak yang bekerja di jalanan (Children in the street)
Street based
Street education
Anak yang hidup di jalan (Children of the street)
Center based
Rehabilitatif  Corectional

C.     Pengertian dan Karakteristik Anak Jalanan
Pengertian tentang anak jalanan ada beberapa macam, yaitu :
1.      Anak jalanan menurut PBB adalah anak yang menghabiskan sebagian besar waktunya dijalan untuk bekerja, bermain dan beraktivitas lain.
2.      Menurut Kementerian Sosial dalam buku “Intervensi Psiko Sosial” (Depsos, 2001), anak jalanan adalah anak di bawah usia 18 tahun yang karena berbagai faktor, seperti ekonomi, konflik keluarga hingga faktor budaya membuat mereka turun ke jalan dan sebagian besar waktunya berada dijalanan atau ditempat-tempat umum.
3.   Anak jalanan adalah anak yang sebagian besar menghabiskan waktunya untuk mencari nafkah atau berkeliaran di jalanan atau tempat-tempat umum lainnya. Dari definisi tersebut memberikan empat faktor yan saling terkait, yaitu : (1) anak-anak; (2) menghabiskan sebagian waktunya; (3) mencari nafkah atau berkeliaran; dan (4) jalanan dan tempat umum lainnya.

4.   Menurut Lusk (1989) dalam Sudrajat (1997), yang dimaksud anak jalanan adalah “…any girl or boy…for whom the street (in the widest sense of the word, including unoccupied dwellings, wasteland, etc.) has become his or her habitual abode and/or source of livelihood; and who is inadequately protected, supervised, or directed by responsible adults. (…setiap anak perempuan atau laki-laki…yang memanfaatkan jalanan (dalam pandangan yang luas ditulis, meliputi tidak punya tempat tinggal, tinggal di tanah kosong dan lain sebagainya) menjadi tempat tinggal sementara dan atau sumber kehidupan; dan tidak dilindungi, diawasi atau diatur oleh orang dewasa yang bertanggung jawab).
Anak jalanan dikelompokkan menjadi 3  (tiga) tipologi yaitu anak yang mempunyai resiko tinggi (children at high risk), anak yang bekerja di jalan untuk membantu keluarganya (children on the street) dan anak yang hidup kesehariannya di jalan (children of the street). Ketiga tipologi anak jalanan tersebut mempunyai karakteristik yang berbeda sehingga model penanganannya juga berbeda. Dalam penulisan makalah ini anak jalanan yang dimaksud adalah yang tergolong dalam kategori children at high risk dengan usia dibawah 18 tahun. Ciri-ciri fisik dan psikis anak jalanan diantaranya :
1.      Ciri fisik anak jalanan adalah warna kulit kusam, rambut kemerah-merahan, kebanyakan berbadan kurus, dan pakaian tidak terurus.
2.      Ciri psikis anak jalanan adalah mobilitasnya tinggi, acuh tak acuh, penuh curiga, sangat sensitif, berwatak keras, kreatif, semangat hidup tinggi, berani menanggung resiko, dan mandiri.
Selain itu karakteristik dari anak jalanan korban eksploitasi antara lain :
1)      Anak jalanan melakukan kegiatan ekonomi di jalan.
2)      Anak jalanan diawasi oleh pihak yang menjadi pelaku eksploitasi.
3)      Tertekan dan mempunyai rasa takut untuk mengungkapkan masalah.
4)      Secara fisik berpenampilan dekil atau kotor pada badan atau pakaian yang mereka pakai.
5)      Berpendidikan rendah, sebagian besar anak korban eksploitasi bependidikan rendah dan putus sekolah.
Penyebab semakin meningkatnya anak-anak jalanan adalah :
1)      Pendidikan yang rendah.
2)      Tidak mempunyai keterampilan kerja.
3)      Konflik keluarga.
4)      Masalah sosial budaya, seperti rendahnya harga diri, sikap pasrah pada nasib, kebebasan dan kesenangan hidup menggelandang di jalanan.
5)      Masalah kemiskinan atau ekonomi.
Dalam kaitannya dengan anak jalanan, adalah : (a) Orang tua mendorong anak untuk bekerja membantu ekonomi keluarga; (b) Kasus kekerasan dan perlakuan salah terhadap anak oleh orang tua semakin meningkat sehingga anak lari ke jalanan; (c) Anak terancam putus sekolah karena orang tua tidak mampu membayar uang sekolah; dan (d) Makin banyak anak yang hidup di jalanan karena biaya kontrakan rumah meningkat. Keberadaan mereka di jalanan adalah bukan kehendak mereka. Keadaan yang membuat mereka terjun ke jalanan serta faktor lingkungan diluar anak jalanan termasuk keluarga dominan mendorong seorang anak menjadi anak jalanan.

Penyebab anak turun ke jalan adalah masalah ekonomi keluarga anak jalanan yang menuntut anak ikut andil dalam mencukupi kebutuhan keluarganya. Rata-rata penghasilan keluarga anak jalanan sangat minim, tidak dapat memenuhi kebutuhan keluarganya terutama anak-anaknya. Dengan pendapatan yang kurang tersebut, mereka terpaksa mengkaryakan anaknya untuk membantu perekonomian keluarganya. Sebagian besar mata pencaharian keluarga adalah sebagai pedagang asongan, kuli panggul, tukang parkir dan pengelap mobil. Komunitas seperti ini biasanya miskin, kurang akses terhadap sumber-sumber dan pela­yan­an, kurang akses dan kekuatan terhadap peluang-peluang dengan pendapatan yang memang terbatas. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, dilakukan Program pengembangan masyarakat (community development) dengan memperhatikan unsur-unsur dimensi pengembangan masyarakat itu sendiri meliputi pembangunan, peningkatan dan pemberdayaan, yang diarahkan untuk me­ngatasi masalah-masalah keluarga dan masyarakat dalam persfektif ko­munitas yang menyebabkan anak-anak menjadi anak-anak jalanan. Program pengembangan masyarakat bertujuan untuk membantu komunitas mengidentifikasi masalah-masalah dan kebutuhan, mobilisasi sumber-sumber internal dan eks­ternal dan melibatkan mereka dalam pemecahan masalah, sebagai bagian partisipasi seluruh masyarakat dalam kehidupan mereka.
1.   Dimensi Pembangunan
Pembangunan rumah singgah atau rumah terbuka singgah mulai berkembang akhir-akhir ini di berbagai negara untuk melengkapi pendekatan yang sudah ada, termasuk di Indonesia yang merupakan salah satu penanganan anak-anak jalanan. Keunikannya adalah mampu digunakan untuk memperkuat pendekatan-pendekatan community developmentterhadap anak jalanan. Keberadaan rumah singgah diharapkan sebagai pendamping program di garis depan, dapat bersinergi dengan baik, meningkatkan kinerjanya dengan  didukung oleh instansi- instansi terkait seperti Dinas Sosial dan Satpol PP setempat dan relawan lainnya untuk menarik anak dari jalanan melalui pendekatan  persuasif agar mereka kembali ke rumah/keluarga dan dapat bersekolah lagi serta mengisi waktu luangnya dengan kegiatan yang bermanfaat untuk bekal di masa depannya, untuk mengurangi jumlah anak jalanan dan mendorong pembangunan berbasis komunitas di seluruh Indonesia. Selain pembangunan rumah singgah, program penanganan anak-anak jalanan dapat dilakukan melalui pembangunan dan pengembangan jaringan. Pengorganisasian kelompok swadaya masyarakat perlu disertai dengan peningkatan kemampuan para anggotanya membangun dan mempertahankan jaringan dengan berbagai sistem sosial di sekitarnya. Jaringan ini sangat penting dalam menyediakan dan mengembangkan berbagai akses terhadap sumber dan kesempatan bagi peningkatan keberdayaan masyarakat miskin.
2.   Dimensi Peningkatan
Dalam prosesnya, penanganan anak-anak jalanan mencakup peningkatan kesadaran masyarakat terhadap permasalahan dan sumber-sumber yang dimiliki, melatih wakil-wakil dan kader-kader masyarakat untuk advokasi dan mobiliasi sumber-sumber eksternal, dan menyusun jaringan kerja untuk akses terhadap pelayanan dan kesempatan yang mendukung pengembangan masyarakat. Fokus program adalah keluarga anak jalanan, anak-anak miskin lainnya, dan komu­ni­tas yang mampu mengadakan perubahan-perubahan dan memberi peluang anak-anak mereka untuk keluar dari jalanan, dengan menggunakan model pengembangan masyarakat sebagai berikut :
a)   Community based adalah model penanganan yang berpusat di masyarakat dengan menitik beratkan pada fungsi-fungsi keluarga dan potensi seluruh masyarakat. Tujuan akhir adalah anak tidak menjadi anak jalanan dan mereka tetap berada di lingkungan keluarga. Kegiatannya biasanya meliputi peningkatan pendapatan keluarga, penyuluhan dan bimbingan pengasuhan anak, kesempatan anak untuk memperoleh pendidikan dan kegiatan waktu luang dan lain sebagainya.
b)   Street based adalah kegiatan di jalan, tempat dimana anak-anak jalanan beroperasi. Pekerja sosial datang mengunjungi, menciptakan perkawanan, mendampingi dan menjadi sahabat untuk keluh kesah mereka. Anak-anak yang sudah tidak teratur berhubungan dengan keluarga, memperoleh kakak atau orang tua pengganti dengan adanya pekerja sosial.
c)   Center based yaitu kegiatan di panti, untuk anak-anak yang sudah putus dengan keluarga. Panti menjadi lembaga pengganti keluarga untuk anak dan memenuhi kebutuhan anak seperti kesehatan, pendidikan, ketrampilan waktu luang, makan, tempat tinggal, pekerjaan dan lain sebagainya.
Permasalahan yang dihadapi adalah anak-anak yang kurang terpenuhi hak-haknya sebagai seorang anak antara lain hak untuk memperoleh pendidikan, kesehatan seperti banyaknya anak usia sekolah tidak bersekolah atau terancam putus sekolah, kekurangan gizi dimasa pertumbuhan, dan banyaknya anak yang putus sekolah. Hal ini menunjukan bahwa dalam komunitas tersebut mempunyai tingkat kerawanan keluarga yang cukup tinggi, karena keluarga tersebut tidak mampu memenuhi kebutuhan dan terpaksa mengkaryakan anaknya untuk bekerja di jalan sebagai pengamen, pedagang koran dan lain-lain. Anak-anak ini pada umumnya masih tinggal bersama orang tuanya dan ke jalan hanya beberapa jam saja membantu orang tuanya. Anak jalanan ini dikategorikan anak yang mempunyai resiko tinggi untuk menjadi anak jalanan (children at hight risk).
Penanganan anak jalanan ini sangat penting karena anak berhak untuk mendapatkan pelayanan kesejahteraan yang terbaik bagi anak dan berhak untuk mendapatkan perlindungan. Kita harus menyadari bahwa terhambatnya pemenuhan hak-hak anak terutama pada anak jalanan akan berdampak pada kelangsungan hidup anak itu sendiri, maupun bangsa dan negara Indonesia. Untuk itu kebijakan pemerintah harus lebih memberdayakan kaum miskin dengan meningkatkan akses kaum miskin terhadap sumberdaya produktif  dan pelayanan serta meningkatkan keterkaitan kebijakan program pemerintah yang berfihak terhadap anak dengan menyediakan lapangan pekerjaan bagi orang tua anak jalanan, progran pendidikan murah dengan memperhatikan hak-hak anak sehingga mereka menjadi generasi yang terbaik dan tidak menjadi generasi yang hilang di masa mendatang (lost generation).  

3.   Dimensi Pemberdayaan Masyarakat
Program penanganan anak jalanan sampai saat ini cenderung lebih dititikberatkan pada upaya pemberdayaan langsung kepada anak. Pelayanan kepada keluarga atau orang tua sebagai penyebab anak turun ke jalan, belum tersentuh. Menurut perkembangannya penyebab banyaknya anak anak jalanan di kota-kota besar bersumber dari keluarga baik yang mengalami kemiskinan maupun keretakan hubungan orang tua. Asumsi dasar intervensi terhadap permasalahan anak jalanan adalah, pemahaman terhadap situasi anak jalanan saja tidak akan memberikan jalan keluar yang efektif. Agar sebuah intervensi efektif, maka diperlukan pemahaman yang menyeluruh mengenai masyarakat dan keluarga anak jalanan. Community development adalah salah satu model penanganan anak jalanan yang menerapkan strategi pengembalian anak kepada keluarga dan mencegah anak-anak menjadi anak jalanan. Anak yang menjadi sasaran adalah anak yang masih berhubungan atau tinggal dengan keluarganya. Basis penanganan diarahkan pada penguatan fungsi keluarga, peningkatan pendapatan dan pendayagunaan potensi yang dimiliki masyarakat. Anak-anak semacam ini memperoleh pendidikan formal dan non formal memenuhi kebutuhan dasar, pengisian waktu luang, dan lain sebagainya. Tujuan community development adalah meningkatkan kemampuan keluarga dan masyarakat dalam mellindungi, mengasuh dan memenuhi kebutuhan anak-anak.
Proses pendekatan berbasis masyarakat berlangsung pada keluarga anak jalanan, anak miskin perkotaan, dan masyarakatnya yang memungkinkan mereka menciptakan perubahan dan peluang-peluang bagi mereka dan anak-anaknya. Beberapa bagian komponennya antara lain advokasi, pengorganisasian masyarakat, peningkatam pendapatan, bantuan pendidikan yang meliputi (klarifikasi nilai dan pelatihan ketrampilan). Community development yang dimaksud disini adalah penanganan anak jalanan dengan mengembangkan wilayah dampingan yang keluarganya mempunyai anak jalanan. Biasanya mereka berkelompok dalam suatu wilayah yang illegal dan kumuh. Perubahan percepatan tersebut biasanya dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain faktor perencanaan program dan kondisi masyarakat yang akan kita ubah. Program penanganan anak jalanan berbasis masyarakat bertujuan agar tercipta keberfungsian sosial keluarga dan masyarakat, sehingga akan berdampak pada salah satu anggota keluarga yaitu anak yang terpenuhi hak-haknya sebagai seorang anak.
Pemberdayaan disini adalah langsung yang diperoleh orang tua anak jalanan yaitu permasalahan ekonomi dan permasalahan keluarga, maka pemberdayaan yang diberikan berupa :
a)      Income generating yaitu pemberian bantuan modal usaha bergulir dimana modal tersebut dikembalikan dan diputarkan kepada keluarga lainnya.
b)      Good parenting yaitu bimbingan keluarga bagi keluarga yang mempunyai permasalahan keluarga melalui penyuluhan dan pengajian tentang keluarga sakinah, kewajiban suami istri dan anak serta konsultasi berbagai permasalahan keluarga lainnya.
c)      Pendidikan, yaitu program memberikan pendidikan dan pengetahuan yang bermanfaat bagi perubahan prilaku dan kehidupan mereka berupa, pelatihan-pelatihan manajemen usaha, bimbingan sosial, diskusi, penyuluhan tentang narkoba dan lain-lain.
d)     Kesehatan, yaitu program pelayanan kesehatan dengan memberikan informasi dan rujukan kesehatan kepada puskesmas, rumah sakit, informasi mengenai pengobatan (kartu Gakin, Kartu Kesehatan).
e)      Kelompok, adalah suatu pendekatan dan kerjasama yang dibentuk oleh mereka sendiri sehingga dapat berdiskusi dan memecahkan permasalahan sendiri.
f)       Keluarga, yaitu  menguatkan fondasi-fondasi keluarga yang selama ini banyak dialami mereka, sementara mereka tidak sadar dan tidak tahu akan artinya sebuah keluarga bagi anak-anak mereka, sehingga mereka tidak lagi menyuruh dan memperkerjakan anak mereka dijalanan, kewajiban merekalah untuk membiaya kebutuhan anak-anak mereka baik sekolah, makanan dan minuman, bermain dan lain-lain.
Bagi para pekerja sosial di lapangan, kegiatan pemberdayaan dapat dilakukan melalui pendampingan sosial meliputi kegiatan : motivasi, peningkatan kesadaran dan pelatihan kemampuan, manajemen diri, mobilisasi sumber, dan pembangunan serta pengembangan jaringan. Lima aspek pemberdayaan di atas dapat dilakukan melalui lima strategi pemberdayaan yang dapat disingkat menjadi 5P, yaitu: Pemungkinan, Penguatan, Perlindungan, Penyokongan dan Pemeliharaan (Suharto, 1997), yaitu :
(1)   Pemungkinan; menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang secara optimal. Pemberdayaan harus mampu membebaskan masyarakat dari sekat-sekat kultural dan struktural yang menghambat.
(2)   Penguatan; memperkuat pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki masyarakat dalam memecahkan masalah dan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Pemberdayaan harus mampu menumbuhkembangkan kemampuan dan kepercayaan diri masyarakat yang menunjang kemandirian mereka.
(3)   Perlindungan; melindungi masyarakat terutama kelompok lemah agar tidak tertindas oleh kelompok kuat, menghindari terjadinya persaingan yang tidak seimbang (tidak sehat) antara yang kuat dan lemah, dan mencegah terjadinya eksploitasi kelompok kuat terhadap kelompok lemah. Pemberdayaan harus diarahkan pada penghapusan segala jenis diskriminasi dan dominasi yang tidak menguntungkan rakyat kecil.
(4)   Penyokongan; memberikan bimbingan dan dukungan agar masyarakat mampu menjalankan peranan dan tugas kehidupannya. Pemberdayaan harus mampu menyokong masyarakat agar tidak terjatuh ke dalam posisi yang semakin lemah dan terpinggirkan.
(5)   Pemeliharaan; memelihara kondisi yang kondusif agar tetap terjadi keseimbangan distribusi kekuasaan antara berbagai kelompok dalam masyarakat. Pemberdayaan harus mampu menjamin keselarasan dan keseimbangan yang memungkinkan setiap orang memperoleh kesempatan berusaha.
Untuk mencapai target Jakarta bebas anak jalanan, langkah-langkah yang sudah dan terus akan dijalankan Kementerian Sosial untuk mencapai target tersebut, seperti memberikan tabungan untuk anak jalanan agar mereka tidak kembali lagi ke jalan. Tabungan tersebut cukup efektif sebab bantuan itu bisa menahan anak agar tidak kembali lagi ke jalan dan bisa membantu biaya sekolah mereka. Pemberdayaan ini dikatakan berhasil jika anak jalanan berubah menjadi kritisdan mampu menyelesaikan permasalahannya secara mandiri.
4.   Model Penanganan Anak Jalanan
Masalah anak jalanan memang masalah lama yang sulit dihadapi. Ada banyak variabel yang membuat permasalahan tersebut sulit dituntaskan. Secara teori fenomena anak jalanan dapat diahadapi dengan tiga model pendekatan, yaitu :
(1)   Pendekatan penghapusan (abolition) ialah suatu pendekatan yang lebih menekankan pada cara menghapus anak jalanan secara radikal, dengan melalui perubahan tatanan struktur tersebut, mengandaikan teratasinya problem kemiskinan yang menjadi akar dari fenomena anak jalanan.
(2)   Pendekatan perlindungan (protection), ialah suatu pendekatan yang menitik beratkan pada perlindungan dan pemberian hak-hak anak jalanan. Perlindungan tersebut dapat melalui perumusan hukum-hukum yang berpihak pada anak jalanan, peningkatan peran lembaga-lembaga sosial juga fungsionalisasi lembaga-lembaga pemerintah untuk memberikan perlindungan terhadap anak jalanan.
(3)   Pendekatan pemberdayaan (empowerment)., ialah susah meningkatkan kemampuan skill anak jalanan dalam bidang tertentu, dengan tujuan para anak jalanan tersebut dapat mandiri secara ekonomi. Pendekatan pemberdayaan tersebut juga untuk membangun kesadaran kritis anak jalanan akan hak dan posisinya dalam ranah sosial dan politik masyarakat. Mereka memiliki hak dan posisi yang sama dengan warga negara yang lain.
Model pembinaan dalam mencapai tujuan salah satunya dalam adanya rumah singgah secara lebih spesifik pembimbingan dilakukan secara kondusif yaitu dengan mengembangkan sistem pembinaan terstruktur, terjadwal, fleksibel, dan berkesinambungan dalam lingkungan dengan kasih sayang perlindungan kebersamaan dan juga keteladanan dari pembimbing (pekerja sosial) yang secara rinci dapat digambarkan sebagai berikut :
(1)   Pembinaan intelektualitas anak jalanan, meliputi pembinaan peningkatan pendidikan dan pengetahuan. Dengan jalan memasukkan anak binaan ke sekolah-sekolah formal sesuai dengan tingkat pendidikan dari anak binaan. Pembinaan peningkatan ketrampilan dan keahlian yaitu melalui pemberian materi pendidikan ketrampilan dan keahlian yang dikelompokkan sesuai bakat dan minat. Sedang pembinaan peningkatan profesionalisme yaitu melalui metode penyampaian dengan pemberian teori dasar tentang seni dan praktek, tujuannya agar anak jalanan akan produktif dari hasil karya seninya.
(2)   Pembinaan mental anak jalanan berupa pemberian motivasi, semangat, rasa percaya diri, kebersihan, dan kedisiplinan. Usaha ini ditempuh dengan cara pendekatan-pendekatan dan nasehat-nasehat. Selain itu juga dapat diberikan peraturan-peraturan yang membuat anak merasa tidak terbebani karena sudah terbiasa.
(3)   Pembinaan moral anak jalanan meliputi pembinaan akhlak, norma/etika, hidup melalui penerapan jadwal sholat bersama, pengajian bersama.
Model Penanganan Anak Jalanan Berbasis Masyarakat (community based ) adalah salah satu model penanganan anak jalanan yang menerapkan strategi pengembalian anak kepada keluarganya dan mencegah anak-anak menjadi anak jalanan. Anak yang menjadi sasaran adalah anak yang masih berhubungan atau tinggal dengan keluarga. Basis penanganan diarahkan pada penguatan fungsi keluarga, peningkatan pendapatan, dan pendayagunaan potensi masyarakat. Anak-anak memperoleh pendidikan formal maupun non formal, memenuhi kebutuhan dasar, pengisian waktu luang dan lain-lain. Tujuan model ini adalah meningkatkan kemampuan keluarga dan anggota masyarakat dalam melindungi, mengasuh dan memenuhi kebutuhan anak-anak. Model community based merupakan pendekatan pencegahan, suatu alternatif untuk melembagakan anak jalanan. Hal itu merupakan suatu usaha yang menunjukkan bahwa permasalahan anak dimulai dari keluarga dan masyarakat. Proses pendekatan berbasis masyarakat adalah ditujukan pada keluarga anak jalanan, anak miskin perkotaan dan masyarakat untuk meyakinkan mereka membuat perubahan terhadap diri mereka sendiri agar tidak memanfaatkan anak mereka untuk mencari nafkah di jalan. Komponen-komponen pendekatan berbasis masyarakat antara lain : advokasi, pengorganisasian masyarakat community worker, peningkatan pendapatan, bantuan pendidikan yang meliputi : klarifikasi nilai dan pelatihan ketrampilan.
Keberhasilan program dalam model community based  tidak terlepas dari peranan pekerja sosial, yang disebut pendamping masyarakat (community worker). Seorang community worker harus memiliki sikap yang bersumber dari kompetensi profesional maupun secara fundamental melekat pada kualitas pribadinya. Kualitas pribadi tersebut disamping diperoleh melalui proses pelatihan, terlebih utama diperoleh dari pengalaman praktek di masyarakat. Kesadaran untuk membangun dan meningkatkan kualitas pribadi secara terus menerus perlu dikembangkan dalam rangka tanggung jawab profesionalnya. Tujuan penanganan dengan model ini adalah :
(1)   Untuk membangkitkan kesadaran orang tua dan anak-anak mengenai hak-hak anak, membangkitkan perasaan bahwa mereka bisa melakukan sesuatu untuk merubah kehidupannya.
(2)   Membantu mereka dalam mengidentifikasi kebutuhan mereka dan mengorganisir penduduk untuk memenuhi kebutuhan mereka.
(3)   Mengembangkan kapabilitas orang tua dan anak-anak untuk memahami dan bertindak berdasarkan kemampuan mereka dalam menggunakan sumber internal maupun eksternal guna memenuhi kebutuhan serta untuk mengatasi masalah mereka.
Sasaran dari model community based  adalah : (1) Terwujudnya keluarga dan masyarakat yang mampu mengurus dirinya dan mampu memecahkan masalah yang ada serta tidak tergantung pihak lain; (2) Terciptanya keberfungsian sosial kehidupan anak dengan keluarga dan masyarakat secara harmonis; dan (3) Terwujudnya dan terbinanya kepedulian serta peran aktif keluarga dan masyarakat dalam melindungi anak-anak mereka agar tidak turun ke jalanan. Target intervensi program secara langsung adalah keluarga anak jalanan dan masyarakat. Sedangkan sasaran tidak langsungnya adalah anak jalanan itu sendiri. Sedangkan fungsinya adalah mencegah agar anak tidak turun ke jalan, mengembalikan anak kepada orang tua atau keluarga pengganti, dan anak mandiri dan bekerja pada tempat yang lebih baik dari pada di jalanan.
Adapun prinsip pelayanan adalah partisipatif, sustainable, pemberdayaan, multiefek, dan kontrol sosial. Partisipatif yaitu menekankan pada kebersamaan atau saling memberikan sumbangan akan kepentingan dan masalah-masalah bersama yang tumbuh dari kepentingan dan perhatian individu keluarga anak jalanan itu sendiri. Sutainable, yaitu dalam proses pengembangan keluarga dan masyarakat harus berkelanjutan. Pemberdayaan (empowerment) yaitu peningkatan kemampuan keluarga untuk memelihara kelangsungan hidup, tumbuh kembang dan perlindugan anak. Dalam hal ini keluarga anak jalanan tidak tergantung selamanya pada pekerja sosial pendamping. Multiefek, yaitu intervensi yang dilakukan terhadap keluarga anak jalanan tidak hanya berdampak pada dirinya sendiri, tetapi juga berdampak pada lingkungan sekitarnya terutama pada anak mereka. Kontrol sosial  yaitu segala tindakan pencegahan dan pengawasan oleh keluarga dan masyarakat terhadap tindak kekerasan, perlakuan salah, eksploitasi maupun penelantaran anak yang terjadi pada keluarganya.
Program dalam model community based antara lain (1) penambahan pendapatan keluarga (income generating), yaitu bantuan sosial bagi keluarga/orang tua anak jalanan untuk meningkatkan pendapatan keluarga dan diharapkan dapat memenuhi hak-hak anaknya (seperti pemberian bantuan modal usaha ekonomi produktif berupa pinjaman uang untuk berdagang, bimbingan motifasi berwirausaha, pembentukan kelompok swadaya masyarakat dan pelatihan manajemen kelompok); dan (2) pembentukan keluarga yang baik (good parenting), adalah meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan bagi keluarga bermasalah atau rawan masalah sehingga secara bertahap mampu mendayagunakan sumber yang tersedia di dalam dan di luar keluarga guna pemecahannya (seperti pemberian informasi tentang kesejahteraan keluarga, mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan, membantu merujuk kepada pelayanan terkait yang dibutuhkan, penyuluhan dan bimbingan tentang hak anak). Keberhasilan model community based tidak lepas dari peranan pendamping masyarakat yang dilakukan oleh pekerja social.



Referensi: 


Jumat, 27 November 2015

Tugas Softskill Minggu 10

Pengaruh Kebudayaan Terhadap Pembelian dan Konsumsi

            Kebudayaan dalam bahasa Inggris disebut culture. Kata tersebut sebenarnya berasal dari bahasa Latin = colere yang berarti pemeliharaan, pengelolaan tanah menjadi tanah pertanian. Sedangkan kata budaya berasal dari bahasa Sansekerta yaitu kata buddayah. Kata budayyah berasal dari kata budhi atau akal. manusia memiliki unsur-unsur potensi budaya yaitu pikiran (cipta), rasa dan kehendak (karsa). Hasil ketiga potensi budaya itulah yang disebut kebudayaan. 
Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Kebudayaan itu hanya dimiliki oleh masyarakat manusia
2. Kebudayaan itu tidak diturunkan secara biologis melainkan diperoleh melalui proses belajar
3. Kebudayaan itu didapat, didukung dan diteruskan oleh manusia sebagai anggota masyarakat.
Menurut Selo Soedmardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya,rasa, dan cipta masyarkat. Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedagkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial,religi, seni, dll, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

KEBUDAYAAN SEBAGAI TEMPAT SEORANG INDIVIDU MENEMUKAN NILAI-NILAI YANG DIANUTNYA.
       Individu tidak lahir dengan membawa nilai-nilai (values). Nilai-nilai ini diperoleh dan berkembang melalui informasi, lingkungan keluarga, serta budaya sepanjang perjalanan hidupnya. Mereka belajar dari keseharian dan menetukan tentang nilai-nilai mana yang benar dan mana yang salah. Untuk memahami perbedaan nilai-nilai kehidupan ini sangat tergantung pada situasi dan kondisi dimana mereka tumbuh dan berkembang. Nilai-nilai tersebut diambil dengan berbagai cara antara lain :
1.      Model atau contoh - dimana individu belajar tentang nilai-nilai yang baik atau yang buruk melalui observasi perilaku keluarga, sahabat, teman sejawat dan masyarakat lingkungannya dimana ia bergaul.
2.       Moralitas - diperoleh dari keluarga, ajaran agama, sekolah dan institusi tempatnya bekerja dan memberikan ruang dan waktu atau kesempatan kepada individu untuk mempertimbangkan nilai-nilai yang berbeda.
3.      Sesuka hati adalah proses dimana adaptasi nilai-nilai kurang terarah dan sangat tergantung kepada nilai-nilai yang ada didalam diri seseorang dan memilih serta mengembangkan sistem nilai-nilai tersebut menurut kemauan mereka sendiri. Hal ini lebih sering disebabkan karena kurangnya pendekatan, atau tidak adanya bimbingan atau pembinaan sehingga dapat menimbulkan kebingungan, dan konflik internal bagi individu tersebut.
4.      Penghargaan dan Sanksi : Perlakuan yang biasa diterima seperti : mendapatkan penghargaan bila menunjukan perilaku yang baik, dan sebaliknya akan mendapatkan sanksi atau hukuman bila menunjukan perilaku yang tidak baik.
5.      Tanggung jawab untuk memilih - adanya dorongan internal untuk menggali nilai-nilai tertentu dan mempertimbangkan konsekuensinya untuk diadaptasi. Disamping itu, adanya dukungan dan bimbingan dari seseorang akan menyempurnakan perkembangan sistem nilai dirinya sendiri.

PENGARUH KEBUDAYAAN TERHADAP PERILAKU KONSUMEN
Pengertian perilaku konsumen menurut Shiffman dan Kanuk (2000) adalah perilaku yang diperhatikan konsumen dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi dan mengabaikan produk, jasa, atau ide yang diharapkan dapat memuaskan konsumen untuk dapat memuaskan kebutuhannya dengan menkonsumsi produk atau jasa yang ditawarkan.
Model Perilaku Konsumen
1. Faktor Budaya
            Faktor budaya memberikan pengaruh paling luas dan dalam pada perilaku konsumen. Pengiklan harus mengetahui peranan yang dimainkan oleh budaya, subbudaya dan kelas sosial pembeli. Budaya adalah penyebab paling mendasar dari keinginan dan perilaku seseorang. Sub-budaya dapat dibedakan menjadi empat jenis : kelompok nasionalisme, kelompok keagamaan, kelompok ras, area geografis.
Kelas-kelas sosial adalah masyarakat yang relatif permanen dan bertahan lama dalam suatu masyarakat, yang tersusun secara hierarki dan keanggotaanya mempunyai nilai, minat dan perilaku yang serupa. Kelas sosial bukan ditentukan oleh satu faktor tunggal, seperti pendapatan, tetapi diukur dari kombinasi pendapatan, pekerjaan, pendidikan, kekayaan dan variabel lain.

2. Pengaruh Budaya Yang Tidak Disadari 
Dengan adanya kebudayaan, perilaku konsumen mengalami perubahan. Dengan memahami beberapa bentuk budaya dari masyarakat, dapat membantu pemasar dalam memprediksi penerimaan konsumen terhadap suatu produk. Pengaruh budaya dapat mempengaruhi masyarakat secara tidak sadar.

3. Pengaruh Budaya dapat Memuaskan Kebutuhan
            Budaya yang ada di masyarakat dapat memuaskan kebutuhan masyarakat. Budaya dalam suatu produk yang memberikan petunjuk, dan pedoman dalam menyelesaikan masalah dengan menyediakan metode "Coba dan Buktikan" dalam memuaskan kebutuhan fisiologis, personal dan sosial.
4. Pengaruh Budaya Dapat Dipelajari
Budaya dapat dipelajari sejak seseorang sewaktu masih kecil, yang memungkinkan seseorang mulai mendapat nilai-nilai kepercayaan dan kebiasaan dari lingkungan yang kemudian membentuk kepribadian seseorang. Berbagai macam cara budaya dapat dipelajari. Seperti yang diketahui secara umum yaitu misalnya ketika orang dewasa dan rekannya yang lebih tua mengajari anggota keluarganya yang lebih muda mengenai cara berperilaku. Begitu juga dalam dunia industri, perusahaan periklanan cenderung memilih cara pembelajaran secara informal dengan memberikan model untuk ditiru masyarakat. Iklan tidak hanya mampu mempengaruhi persepsi sesaat konsumen mengenai keuntungan dari suatu produk, namun dapat juga mempengaruhi persepsi generasi mendatang mengenai keuntungan yang akan didapat dari suatu kategori produk tertentu.


5. Pengaruh Budaya yang Berupa Tradisi
Tradisi adalah aktivitas yang bersifat simbolis yang merupakan serangkaian langkah-langkah (berbagai perilaku) yang uncul dalam rangkaian yang pasti dan terjadi berulang-ulang. Hal yang penting dari tradisi ini untuk para pemasar adalah fakta bahwa tradisi cenderung masih berpengaruh terhadap masyarakat yang menganutnya. Misalnya yaitu, natal, yang selalu berhubungan dengan pohon cemara. Dan untuk tradistradisi misalnya pernikahan, akan membutuhkan perhiasan-perhiasan sebagai perlengkapan acara tersebut.

DAMPAK NILAI-NILAI INTI TERHADAP PEMASAR
1. Kebutuhan
Konsep dasar yang melandasi pemasaran adalah kebutuhan manusia. Kebutuhan manusia adalah pernyataan dari rasa kehilangan, dan manusia mempunyai banyak kebutuhan yang kompleks. Semua kebutuhan berasal dari masyarakat konsumen, bila tidak puas, konsumen akan mencari produk atau jasa yang dapat memuaskan kebutuhan tersebut.

2. Keinginan
Keinginan digambarkan dalam bentuk objek yang akan memuaskan kebutuhan mereka atau keinginan adalah hasrat akan penawar kebutuhan yang spesifik. Masyarakat yang semakin berkembang, keinginannya juga semakin luas, tetapi ada keterbatasan dana, waktu, tenaga dan ruang, sehingga dibutuhkan perusahaan yang bisa memuaskan keinginan sekaligus memenuhi kebutuhan manusia dengan menebus keterbatasan tersebut, paling tidak meminimalisasi keterbatasan sumber daya.

3. Permintaan
Dengan keinginan dan kebutuhan serta keterbatasan sumber daya tersebut, akhirnya manusia menciptakan permintaan akan produk atau jasa dengan manfaat yang paling memuaskan. sehingga muncullah istilah permintaan, yaitu keinginan manusia akan produk spesifik yang didukung oleh kemampuan dan ketersediaan untuk membelinya.


VARIASI NILAI PERUBAHAN DALAM NILAI BUDAYA TERHADAP PEMBELIAN DAN KONSUMSI
            Nilai budaya memberikan dampak yang lebih pada perilaku konsumen dimana dalam hal ini dimasukkan ke dalam kategori-kategori umum yaitu berupa orientasi nilai-nilai lainnya yaitu merefleksi gambaran masyarakat dari hubungan yang tepat anatar individu dan kelompok dalam masyarakat. Hubungan ini mempunyai pengaruh yang utama dalam praktek pemasaran. sebagai contoh, jika masyarakat menilai aktifitas kolektif, konsumen akan melihat ke arah lain pada pedoman dalam keputusan pembelanjaan dan tidak akan merespon keuntungan pada seruan promosi untuk "menjadi seorang individual". Dan begitu juga pada budaya yang individualistik. Sifat dasar dari nilai yang terkait ini termasuk individual/kolektif, kaum muda/tua, meluas/batas keluarga, maskulin/feminim, persaingan/kerjasama dan perbedaan/keseragaman.


source : http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2011/01/pengaruh-kebudayaan-terhadap-pembelian-dan-konsumsi/


Sabtu, 21 November 2015

Tugas ke-9 Softskill Perilaku Konsumen

Mempengaruhi Sikap dan Perilaku

Sikap adalah cara menempatkan atau membawa diri, atau cara merasakan, jalan pikiran, dan perilaku. Selain itu, sikap atau attitude adalah suatu konsep paling penting dalam psikologi sosial. Pembahasan yang berkaitan dengan psikologi (sosial) hampir selalu menyertakan unsur sikap baik sikap individu maupun sikap kelompok sebagai salah satu bagian pembahasannya.
Banyak kajian dilakukan untuk merumuskan pengertian sikap, prose terbentuknya sikap, maupun proses perubahannya. Banyak pula penelitian telah dilakukan terhadap sikap untuk mengetahui efek dan perannya baik sebagai variabel bebas maupun sikap sebagai variabel tergantung
Kepercayaan konsumen terhadap suatu produk bahwa produk tersebut memiliki atribut adalah akibat dari pengetahuan konsumen. Menurut Mowen dan Minor kepercayaan konsumen adalah pengetahuan konsmen mengenai suatu objek, atributnya, manfaatnya. Pengetahuan tersebut berguna dalam mengkomunikasikan suatu produk dan atributnya kepada konsumen. Sikap menggambarkan kepercayaan konsumen terhadap berbagai atribut tersebut. Berikut adalah beberapa karakteristik sikap antara lain :
1.Sikap positif, negatif, netral.
2.Keyakinan sikap.
3.Sikap memiliki objek.
4.Konsistensi sikap.
5.Resistensi sikap.

Empat fungsi sikap yang bisa digunakan oleh pemasar sebagai metode untuk mengubah sikap konsumen terhadap produk dan atributnya menurut Daniel Katz antara lain :
1.Fungsi utilitarian.
2.Fungsi mempertahankan ego.
3.Fungsi ekspresi nilai.
4.Fungsi pengetahuan.

Pengukuran sikap yang paling populer digunakan oleh para peneliti konsumen adalah model multi atribut yang terdiri dari tiga model : the attittude toward-object model, the attittude toward-behavior model, dan the theory of reasoned-action model. Model ini menjelaskan bahwa sikap konsumen terhadap suatu objek sangat ditentukan oleh sikap konsumen terhadap atribut-atribut yang dievaluasi. Model ini menekankan tingkat kepentingan yang diberikan kosumen kepada suatu atribut sebuah produk. Model sikap lainnya yang juga sering digunakan adalah model sikap angka ideal. Model ini memberikan informasi mengenai sikap konsumen terhadap merek suatu produk sekaligus memberikan informasi mengenai merek ideal yang dirasa suatu produk. Perbedaannya dengan model multi atribut adalah terletak pada pengukuran sikap menurut konsumen.
Komponen yang secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total attitude) yaitu
1.    Kognitif (cognitive)
Berisi kepercayaan seseorang mengenai apa yang berlaku atau apa yang benar bagi obyek sikap. Sekali kepercayaan itu telah terbentuk maka ia akan menjadi dasar seseorang mengenai apa yang dapat diharapkan dari obyek tertentu
2.    Afektif (affective)
Menyangkut masalah emosional subyektif seseorang terhadap suatu obyek sikap. Secara umum komponen ini disamakan dengan perasaan yang dimiliki obyek tertentu.
3.    Konatif (conative)
Komponen konatif atau komponen perilaku dalam struktur sikap menunjukkan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku dengan yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan obyek sikap yang dihadapi.
Sikap memiliki beberapa karakteristik, antara lain: arah, intensitas, keluasan, konsistensi dan spontanitas (Assael, 1984 dan Hawkins dkk, 1986). Karakteristik dan arah menunjukkan bahwa sikap dapat mengarah pada persetujuan atau tidaknya individu, mendukung atau menolak terhadap objek sikap. Karakteristik intensitas menunjukkan bahwa sikap memiliki derajat kekuatan yang pada setiap individu bisa berbeda tingkatannya. Karakteristik keluasan sikap menunjuk pada cakupan luas mana kesiapan individu dalam merespon atau menyatakan sikapnya secara spontan. Dari definisi-definisi yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa sikap adalah suatu bentuk evaluasi perasaan dan kecenderungan potensial untuk bereaksi yang merupakan hasil interaksi antara komponen kognitif, afektif dan konatif yang saling bereaksi didalam memahami, merasakan dan berperilaku terhadap suatu objek

Referensi:


Kamis, 12 November 2015

Tulisan Softskil Minggu 8 Perilaku Konsumen

Kredit Macet: Tips Menghindari dan Mengatasinya

Hutang pasti membuat pusing, apalagi jika jumlahnya sudah melebihi kemampuan keuangan Anda. Jika situasi ini terjadi, alhasil untuk melunasi hutang tersebut akan terasa sangat berat, meskipun dengan cara menyicilnya. Jika meminjam kepada individu lain atau secara perorangan, Anda mungkin bisa melakukan negosiasi untuk menambah masa peminjaman. Lalu bagaimana jika hutang yang menumpuk tersebut berasal dari pinjaman-pinjaman di bank?
Kucuran pinjaman dari bank yang relatif berbunga tinggi bisa membuat Anda kewalahan untuk melunasinya. Apalagi, kredit yang diberikan oleh bank meliki jenis yang bermacam-macam, mulai dari Kredit Tanpa Agunan (KTA), Kredit Pemilikan Rumah (KPR), Kredit Pemilikan Kendaraan, dan lain-lain. Banyaknya jenis peminjaman ini memberikan kemudahan untuk membeli barang atau memenuhi kebutuhan lain. Namun, pinjaman-pinjaman tersebut bisa menjadi beban karena bunga-bunga yang besar. Jika pinjaman tidak lagi dibayar atau dicicil, saat itulah yang disebut dengan kredit macet.
Dengan kata lain, kredit macet adalah sebuah kondisi ketika peminjam atau debitur tidak mampu lagi membayar hutangnya dikarenakan dana yang dimiliki tidak mencukupi. Di lain sisi, bunga pinjaman dari pihak bank akan terus berjalan dan angkanya merangkak naik. Hal ini membuat total pinjaman debitur tersebut semakin besar dan kian sulit untuk dilunasi. Biasanya kondisi seperti itu terjadi karena pada awal peminjaman, debitur terlalu memaksakan jumlahnya. Pinjaman yang kelewat besar itu ternyata tidak mampu dibayar hingga akhirnya debitur melalaikan kewajibannya untuk melakukan cicilan secara tepat dan teratur, karena uang yang dimilikinya harus digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang lain.
Menghindari Kredit Macet
Kredit macet bisa menjadi teror bagi debitur. Tentu saja karena pihak bank akan terus menagihnya selama cicilan tidak dibayar, yang juga jumlahnya akan semakin besar akibat menumpuknya bunga. Namun, bukan berarti meminjam uang di bank menjadi sesuatu yang menakutkan. Pinjaman tersebut dapat pula menyenangkan sebab dari sana Anda dapat memperoleh dana untuk membeli barang-barang yang diinginkan dengan cara mencicil. Agar bisa menjadi debitur yang baik dan tidak terjebak kredit macet, ada beberapa prinsip meminjam yang harus dipegang. Berikut kami paparkan prinsip-prinsip yang sebaiknya Anda ambil jika ingin menjadi debitur yang bebas kredit macet.

1. Pinjam Sesuai Kemampuan
Hal yang harus diingat ketika hendak mengajukan kredit kepada siapa pun, terutama pada bank, adalah pinjaman tersebut masih dalam rasio yang baik dengan penghasilan. Dengan demikian, kredit tersebut tidak akan melampaui kemampuan finansial. itu berarti harus ada pengalokasian anggaran dari total pendapatan untuk kebutuhan-kebutuhan lain selama masih dalam masa pelunasan hutang.
Menyadari banyaknya kebutuhan yang mesti dipenuhi, di luar kewajiban membayar hutang dan bunganya, Anda sebaiknya tidak mengajukan plafon terlalu tinggi atau melewati batas kemampuan bayar. Pastikan cicilan yang harus dibayar tiap bulan tidak lebih 30 persen total pendapatan. Dengan demikian, Anda bisa membayar hutang sekaligus tidak menyengsarakan hidup sebab kebutuhan dasar bisa tetap terpenuhi.

2. Hindari Hutang Konsumtif
Mengajukan pinjaman memang hak setiap individu. Penggunaannya pun berbeda-beda. Hanya saja, pastikan selalu bahwa pinjaman yang dilakukan itu bermanfaat ke depannya, bukan sekadar memenuhi gaya hidup yang konsumtif. Hutang konsumtif hanya membuat Anda terlilit dan tidak menghasilkan apa pun.
Sebaiknya Anda lebih bersikap bijaksana dalam mengajukan kredit ke bank. Ajukan kredit yang memang digunakan untuk memenuhi kebutuhan penting dalam meningkatkan kualitas hidup Anda. Sebagai contoh, mengambil KPR di bank tertentu untuk membeli hunian yang diidam-idamkan selama ini. Kredit jenis ini jelas sangat berguna bagi Anda karena harga properti yang kian lama kian meningkat pesat. Peningkatan harga properti bahkan cenderung melebihi tinggi bunga KPR.

3. Jangan Menghindari Kewajiban Mencicil
Mungkin berawal dari kemalasan sesaat untuk melakukan pembayaran cicilan di tengah prosesnya. Penyebabnya bermacam-macam, seperti menunda waktu pembayaran ataupun dana cicilan dipakai terlebih dahulu untuk pemenuhi kebutuhan yang lain. Jika sudah demikian, Anda bisa kena denda karena tidak melakukan pembayaran tepat waktu. Nilai cicilan yang harus dibayar pada bulan berikutnya akhirnya melonjak dan semakin berat untuk dibayar. Jika kondisi seperti itu terus berlanjut, kemalasan tersebut bisa berubah menjadi petaka. Kemampuan membayar cicilan akan semakin mengecil dan akhirnya menempatkan Anda pada posisi kredit macet. Situasi ini muncul sebab bunga pinjaman dari cicilan yang belum Anda bayarkan terus bertambah.

Mengatasi Kredit Macet
Jika kondisi kredit macet telah menghampiri, maka Anda tidak perlu panik. Tetap tenang dan bersikap kooperatif dengan pihak bank terkait. Jangan sampai Anda menghindar dari telepon-telepon bank karena itu hanya menambah masalah. Sikap menghindar hanya akan memberikan asumsi jelek dari pihak bank bahwa Anda tidak memiliki niat untuk melunasi kredit. Bisa jadi pihak bank akan terus mendatangkan debt collectorjika debitur tidak mau bekerja sama dengan baik dengan pihak bank.
Anda bisa datangi pihak bank dan bicarakan baik-baik. Ungkapkanlah kondisi Anda dengan jujur dan jelas bagaimana Anda bisa berada dalam posisi kredit macet. Cobalah untuk mengajukan restrukturisasi pinjaman kepada bank. Cara ini dijamin bisa menyelesaikan permasalahan kredit macet Anda.
Restrukturisasi adalah upaya yang bisa dilakukan untuk memperbaiki perkreditan dari debitur atau peminjam. Perbaikan tersebut dilakukan karena debitur mengalami kesulitan melakukan pembayaran untuk melunasi hutangnya. Secara umum, ada tiga jenis restrukturisasi yang dapat diberikan pada debitur yang berada dalam kondisi kredit macet. Tiga jenis itu antara lain:

a. Penjadwalan Kembali (Rescheduling)
            Sebuah pinjaman atau kredit pasti memiliki jangka waktu pembayaran bagi debitur untuk melunasi hutang beserta bunganya. Hal tersebut dikenal dengan istilah tenor. Pada kasus restrukturisasi kredit macet, pihak bank akan menyesuaikan tenor pinjaman Anda agar bisa kembali menyicil pembayaran kredit.
Tenor pinjaman dari debitur yang mengalami kredit macet diperpanjang oleh bank agar angsuran yang mesti dibayar bisa semakin ringan. Perpanjangan tenor ini akan disesuaikan dengan kemampuan bayar debitur. Sebagai contoh, Anda memiliki Kredit Pemilikan Kendaraan selama satu tahun, tetapi macet di tengah jalan. Pihak bank akhirnya melakukan rescheduling tenor pinjaman Anda menjadi tiga tahun agar Anda mulai bisa menyicil pembayaran lagi karena otomatis angsurannya menjadi lebih kecil.

b. Persyaratan Kembali (Restructuring)
Ada syarat-syarat yang dapat diubah oleh pihak bank ketika mendapati ada nasabahnya yang mengonfirmasikan ia mengalami kendala dalam pembayaran. Perubahan syarat tersebut dapat mencakup perubahan jadwal pembayaran,  jangka waktu, ataupun persyaratan lainnya. Namun yang mesti digarisbawahi, persyaratan kembali ini bisa dilakukan dengan syarat tidak mengubah maksimum plafon kredit.
Beragamnya persyaratan kembali yang bisa diberikan pihak bank untuk menyelesaikan masalah kredit macet diharapkan membuat nasabah setidaknya mampu membayar pinjaman pokok. Contoh kasusnya, ketika usaha Anda melambat dan merugi hingga akhirnya tidak bisa membayar pinjaman dan tersandung kredit macet, pihak bank dapat menawarkan pinjaman baru dengan harapan usaha Anda bisa kembali berkembang. Dengan demikian, Anda bisa mengembangkan usaha kemudia membayar pinjaman-pinjaman Anda sampai lunas.

c. Penataan Kembali (Reconditioning) 
Secara sederhana, penataan kembali dapat diartikan sebagai upaya bank mengubah kondisi kredit untuk meringankan tanggung jawab debitur yang terlibat kredit macet. Caranya bisa dengan menambah fasilitas kredit, mengonversi tunggakan menjadi pokok kredit baru, sampai penjadwalan dan persyaratan kembali.
Dengan penataan kembali, bank bahkan bisa menurunkan bunga yang dibebankan kepada debitur. Ini dengan maksud agar setidaknya nasabah tersebut mampu melunasi utang pokoknya kepada bank. Bahkan jika kondisi debitur sudah sangat kritis hingga dianggap tidak mampu lepas dari kredit macet, bank bisa memberikan opsi pembebasan bunga kepada debitur tersebut. Jadi, debitur cukup membayar pinjaman pokok yang tersisa.

Lebih Baik Hindari Kredit Macet
Hal yang harus diingat, nama debitur akan langsung tercatat di Sistem Infomasi Debitur (SID) Bank Indonesia begitu mendapat restrukturisasi pinjaman dari pihak bank. Catatan tersebut nantinya akan menyulitkan Anda untuk mengajukan pinjaman di kemudian hari sebab nama Anda telah tertera sebagai pihak yang pernah mengalami kredit macet. Karena itu, sebaiknya Anda menghindari kredit macet dengan tetap teguh memegang prinsip-prinsip pinjaman dan tekun melakukan pembayaran yang telah disepakati.


Referens :